
PENGAMAT energi sekaligus Sekretaris Jenderal Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia (IATMI), Hadi Ismoyo, menegaskan bahwa peluncuran program B50 merupakan langkah strategis dalam memperkuat ketahanan energi nasional. Kehadiran program ini diharapkan mampu memutus ketergantungan Indonesia terhadap impor Bahan Bakar Minyak (BBM), khususnya jenis diesel.
Menurut Hadi, B50 bukan sekadar kebijakan energi biasa, melainkan inisiasi awal transisi dari energi fosil menuju energi terbarukan (renewable energy) yang lebih ramah lingkungan dengan memanfaatkan sumber daya lokal.
Sebagai produsen Crude Palm Oil (CPO) terbesar di dunia, Indonesia dinilai memiliki modalitas yang sangat kuat untuk memimpin pengembangan biodiesel global.
“Kehadiran B50 ini penting sekali dalam rangka memutus mata rantai impor diesel dan merupakan inisiasi awal transisi energi dari fosil menuju renewable energy yang lebih ramah lingkungan berbasis sumber daya lokal,” ujar Hadi saat diwawancarai melalui sambungan telepon, Kamis (9/7/2026).
Manfaat Lingkungan dan Jejak Karbon
Dari sisi keberlanjutan, Hadi menyoroti bahwa biodiesel memiliki jejak karbon yang jauh lebih rendah dibandingkan bahan bakar fosil. Hal ini terlihat sejak proses produksi di sektor hulu kelapa sawit yang menghasilkan emisi lebih rendah dibandingkan kegiatan eksplorasi dan produksi minyak dan gas bumi.
Berikut adalah perbandingan estimasi reduksi emisi penggunaan biodiesel berdasarkan keterangan Hadi Ismoyo:
| Indikator | Estimasi Pengurangan Emisi CO2 |
|---|---|
| Penggunaan Biodiesel Umum | 50% – 60% lebih rendah dari fosil |
| Kondisi Tertentu (Negara Maju) | Hingga 80% |
Tantangan Tata Kelola dan Logistik
Meski memiliki potensi besar, Hadi memberikan catatan kritis terkait implementasi di lapangan. Ia menekankan pentingnya tata kelola yang kuat dari hulu hingga hilir untuk memastikan pengembangan sawit tidak memicu deforestasi berlebihan. Selain itu, efisiensi di sisi pengolahan perlu ditingkatkan.
Hadi menyarankan agar Pertamina dan industri pengolahan CPO mulai mengoptimalkan limbah pabrik sawit menjadi biogas. Biogas tersebut nantinya dapat dikonversi menjadi listrik untuk memenuhi kebutuhan operasional pabrik secara mandiri.
Di sisi hilir, tantangan geografis Indonesia menjadi hambatan utama dalam distribusi. Hadi mengidentifikasi beberapa poin krusial yang harus dibenahi:
- Biaya Logistik: Komponen biaya distribusi masih sangat tinggi karena luasnya wilayah Indonesia.
- Sistem Klaster: Perlunya pengembangan sistem distribusi berbasis klaster yang terintegrasi langsung dengan pusat konsumsi utama.
- Inovasi Teknologi: Pengembangan zat aditif untuk memastikan performa mesin tetap optimal saat menggunakan B50.
- Edukasi: Sosialisasi masif kepada masyarakat dan pelaku industri agar produk biodiesel dapat diterima secara luas.
Hadi meyakini, dengan sinergi antara teknologi, tata kelola yang transparan, dan inovasi berkelanjutan, program B50 akan memberikan manfaat ekonomi dan lingkungan yang signifikan bagi negara dan masyarakat.
