
Jakarta – Boraks merupakan bahan kimia yang dilarang digunakan sebagai bahan tambahan pangan. Meski demikian, masih ada oknum yang menyalahgunakannya untuk membuat makanan lebih kenyal dan tahan lama. Agar lebih waspada, ada beberapa cara sederhana yang dapat membantu mengenali makanan yang diduga mengandung boraks.
Menurut Harry Nazarudin, penulis kuliner yang mendalami bidang kimia pangan, boraks adalah bentuk terhidrasi dari natrium borat dengan rumus kimia Na₂H₂₀B₄O₁₇. Senyawa ini mampu bereaksi dengan air dan pati sehingga menghasilkan tekstur yang lebih kenyal pada makanan.
Karena sifat tersebut, boraks kerap disalahgunakan pada berbagai makanan berbahan tepung atau pati, seperti bakso, mi, kerupuk, lontong, siomay, hingga potongan daging yang dimasak dalam kuah.
“Boraks biasanya digunakan pada makanan yang mengandung pati atau kanji agar tetap kenyal meski direbus dalam waktu lama,” jelas Kang Harnaz, sapaan akrab Harry Nazarudin.
Salah satu tantangan dalam mengenali boraks adalah bahan ini tidak memiliki aroma maupun rasa yang khas. Meski begitu, ada beberapa tanda yang dapat diperhatikan.
Salah satunya adalah tekstur makanan yang tetap sangat kenyal walaupun telah direbus cukup lama. Selain itu, tekstur yang masih terasa sangat elastis sering kali tidak sebanding dengan cita rasanya. Misalnya, makanan mulai berbau kurang sedap atau rasanya menurun, tetapi teksturnya tetap kenyal seperti baru dimasak.
Selain mengamati tekstur, terdapat pula cara sederhana yang kerap digunakan sebagai indikasi awal, yakni memanfaatkan kunyit.
Langkahnya cukup mudah. Siapkan sepotong kunyit dan tusuk gigi. Tusukkan ujung tusuk gigi ke permukaan kunyit hingga terkena pigmen kuningnya, kemudian tusukkan ke bakso atau makanan yang ingin diperiksa. Setelah itu, biarkan beberapa saat hingga mengering.
Apabila warna kuning pada tusuk gigi berubah menjadi merah bata, makanan tersebut mengandung zat yang bersifat basa.
Menurut Kang Harnaz, perubahan warna tersebut terjadi karena kunyit dapat berfungsi sebagai indikator pH alami. Boraks sendiri memiliki sifat basa dengan pH sekitar 9 sehingga dapat memicu perubahan warna tersebut.
Ia juga menunjukkan percobaan menggunakan cotton bud yang diolesi kunyit lalu dicelupkan ke dalam larutan dengan pH basa. Hasilnya, warna merah bata tampak lebih jelas dibandingkan saat menggunakan tusuk gigi.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa metode ini tidak dapat dijadikan bukti pasti keberadaan boraks. Sebab, kunyit akan bereaksi terhadap berbagai zat yang bersifat basa, bukan hanya boraks.
Oleh karena itu, uji menggunakan kunyit sebaiknya hanya dianggap sebagai pemeriksaan awal. Untuk memastikan ada atau tidaknya kandungan boraks pada makanan, tetap diperlukan pengujian laboratorium dengan metode yang lebih akurat.
