
Jakarta – Selama ini beras menjadi makanan pokok yang identik sebagai sumber karbohidrat. Namun, kandungan proteinnya tergolong rendah dan indeks glikemiknya cukup tinggi sehingga kurang ideal bagi sebagian orang. Untuk menjawab tantangan tersebut, para ilmuwan di India mengembangkan inovasi baru bernama designer rice.
Mengutip Times of India, inovasi ini dikembangkan oleh tim peneliti dari Council of Scientific and Industrial Research (CSIR) bersama CSIR-National Institute for Interdisciplinary Science and Technology (CSIR-NIIST) di Thiruvananthapuram.
Berbeda dengan beras biasa, designer rice dirancang memiliki kadar protein yang jauh lebih tinggi sekaligus indeks glikemik (GI) yang lebih rendah sehingga dinilai lebih ramah bagi pengendalian gula darah.
Proyek tersebut dipimpin oleh Direktur CSIR-NIIST, C. Anandharamakrishnan, yang menyebut konsep ini sebagai bentuk food architecture. Teknologi yang digunakan bukan rekayasa genetika, melainkan teknik penyusunan ulang komponen pangan agar menghasilkan nilai gizi yang lebih baik.
Dalam prosesnya, beras konvensional terlebih dahulu dipecah menjadi komponen utama seperti pati, protein, dan serat. Setelah itu, seluruh komponen tersebut disusun kembali dengan komposisi baru yang lebih seimbang.
Sebagian kandungan pati dikurangi, kemudian digantikan dengan tambahan protein serta berbagai mikronutrien penting. Para peneliti mengibaratkan proses tersebut seperti merenovasi sebuah bangunan dengan struktur yang lebih kuat, tanpa mengubah bentuk akhirnya. Seluruh proses juga dilakukan tanpa menggunakan bahan kimia berbahaya sehingga tetap aman untuk dikonsumsi.
Menariknya, bahan baku utama yang dipakai berasal dari broken rice atau beras pecah yang selama ini memiliki nilai jual lebih rendah. Beras tersebut diolah menjadi tepung, kemudian dicampurkan dengan protein serta berbagai zat gizi seperti zat besi, asam folat, dan vitamin B12.
Adonan tersebut kemudian dicetak kembali menjadi butiran yang menyerupai beras biasa, baik dari sisi ukuran, tekstur, maupun cita rasanya. Karena tampilannya tetap familiar, designer rice dapat dimasak dan disajikan layaknya nasi pada umumnya.
Pengembangan beras ini juga bertujuan mengatasi dua persoalan kesehatan yang banyak ditemui, yakni tingginya angka diabetes serta hidden hunger, yaitu kondisi ketika seseorang memperoleh cukup kalori tetapi masih mengalami kekurangan zat gizi penting.
Designer rice memiliki indeks glikemik di bawah angka 55 sehingga pelepasan glukosa ke dalam darah berlangsung lebih perlahan. Hal tersebut membantu mengurangi risiko lonjakan gula darah setelah makan.
Tak hanya itu, kandungan proteinnya juga meningkat cukup signifikan. Jika beras biasa rata-rata hanya mengandung sekitar 6 hingga 8 persen protein, designer rice mampu menyediakan lebih dari 20 persen protein.
Produk ini juga diperkaya dengan zat besi, vitamin B12, dan asam folat yang berperan penting dalam pembentukan sel darah merah sehingga berpotensi membantu menekan risiko anemia.
Selain memberikan manfaat kesehatan, inovasi tersebut juga dinilai mampu meningkatkan nilai ekonomi beras pecah yang selama ini kurang dimanfaatkan secara optimal. Dengan demikian, designer rice berpotensi menjadi alternatif pangan bernutrisi sekaligus membuka peluang baru bagi sektor pertanian dan industri pangan.
