
Jakarta – Telur menjadi salah satu menu sarapan yang banyak digemari karena praktis, mengenyangkan, dan kaya nutrisi. Meski memiliki banyak manfaat, konsumsi telur secara berlebihan tetap perlu dihindari karena dapat memicu sejumlah keluhan kesehatan.
Sebagai sumber protein berkualitas tinggi, telur mengandung berbagai vitamin dan mineral penting, seperti vitamin A, D, B12, selenium, serta zinc. Nutrisi tersebut berperan dalam menjaga kesehatan otot, meningkatkan rasa kenyang, hingga mendukung pola makan yang seimbang.
Namun, seperti makanan bergizi lainnya, manfaat telur akan lebih optimal jika dikonsumsi dalam jumlah yang sesuai. Mengutip Food NDTV (12/6), konsumsi telur berlebihan dapat mengganggu sistem pencernaan dan menimbulkan beberapa efek samping pada sebagian orang.
Mengapa terlalu banyak makan telur bisa mengganggu pencernaan?
Kandungan protein yang tinggi pada telur memang baik bagi tubuh, tetapi jika dikonsumsi berlebihan tanpa diimbangi asupan serat, sistem pencernaan bisa bekerja lebih berat.
Kurangnya konsumsi buah, sayuran, dan biji-bijian utuh saat memperbanyak telur berpotensi menyebabkan keluhan seperti perut kembung, produksi gas berlebih, rasa penuh, hingga naiknya asam lambung setelah makan.
Selain itu, sebagian orang memiliki sensitivitas atau alergi terhadap telur. Kondisi tersebut dapat memicu mual, sakit perut, atau gangguan pencernaan lainnya setelah mengonsumsinya. Jika gejala terus berulang, sebaiknya batasi konsumsi telur dan konsultasikan dengan tenaga medis.
Efek lain jika konsumsi telur berlebihan
Tidak hanya berdampak pada saluran cerna, makan telur secara berlebihan juga dapat memicu reaksi alergi ringan, seperti gatal atau iritasi pada kulit pada orang yang sensitif.
Mengandalkan telur sebagai sumber protein utama setiap hari juga dapat membuat pola makan menjadi kurang bervariasi. Akibatnya, tubuh berisiko kekurangan nutrisi lain yang diperoleh dari berbagai jenis makanan.
Bagi orang yang memiliki kolesterol tinggi atau riwayat penyakit jantung, konsumsi telur juga perlu disesuaikan dengan kondisi kesehatan. Selain itu, cara pengolahannya turut memengaruhi nilai gizinya. Memasak telur dengan banyak mentega, keju, atau daging olahan dapat meningkatkan kandungan lemak jenuh dalam menu tersebut.
Berapa konsumsi telur yang dianjurkan?
Jumlah telur yang ideal berbeda pada setiap orang karena dipengaruhi usia, aktivitas fisik, kondisi kesehatan, dan pola makan secara keseluruhan.
Menurut ahli gizi Rupali Datta, orang dewasa yang sehat umumnya dapat mengonsumsi sekitar satu butir telur per hari atau sekitar tiga hingga empat kali dalam seminggu sebagai bagian dari pola makan seimbang.
Sementara itu, anak-anak dapat mengonsumsi satu butir telur setiap hari karena kebutuhan protein dan nutrisi mereka lebih tinggi untuk mendukung pertumbuhan.
Bagi penderita kolesterol tinggi atau penyakit jantung, konsumsi telur sebaiknya lebih dibatasi, yakni sekitar tiga butir per minggu atau mengikuti anjuran dokter maupun ahli gizi.
Cara mengonsumsi telur agar lebih sehat
Selain memperhatikan jumlahnya, metode memasak juga berperan penting. Pilih cara memasak yang minim tambahan lemak, seperti merebus, mengukus, atau membuat telur orak-arik dengan sedikit minyak.
Agar kandungan gizinya lebih seimbang, sajikan telur bersama sayuran serta sumber karbohidrat kompleks seperti roti gandum atau biji-bijian utuh.
Dengan porsi yang tepat dan cara pengolahan yang sehat, telur tetap menjadi salah satu pilihan makanan bergizi yang dapat mendukung kebutuhan nutrisi harian.
