
Jakarta – Masalah jerawat tidak selalu berhenti setelah memasuki usia dewasa. Selain faktor hormon, genetik, dan gaya hidup, pola makan juga dapat berpengaruh terhadap kondisi kulit pada sebagian orang.
Beberapa makanan diketahui dapat memengaruhi kadar gula darah, hormon, produksi minyak, hingga proses peradangan. Kondisi tersebut berpotensi membuat jerawat lebih mudah muncul atau semakin parah.
Karena itu, memperhatikan makanan yang dikonsumsi sehari-hari bisa menjadi salah satu langkah untuk membantu menjaga kesehatan kulit. Dirangkum dari Eat This, Not That!, berikut sejumlah makanan dan asupan yang menurut dokter kulit perlu diperhatikan oleh orang yang rentan mengalami jerawat.
1. Makanan Tinggi Indeks Glikemik
Cookies, permen, soda, roti putih, nasi putih, dan berbagai makanan manis termasuk makanan yang memiliki indeks glikemik tinggi.
Jenis makanan tersebut dapat menyebabkan kadar glukosa darah meningkat dengan cepat. Menurut dokter kulit Emily Wood, kondisi tersebut dapat berkaitan dengan proses peradangan dan peningkatan produksi minyak pada kulit.
Dokter kulit Karan Lal juga menyebut konsumsi gula secara berlebihan dapat berkontribusi terhadap peradangan. Karena itu, konsumsi gula olahan sebaiknya dibatasi dan digantikan dengan sumber makanan yang lebih bernutrisi, termasuk buah-buahan.
2. Susu Oat
Susu oat semakin banyak dipilih sebagai alternatif susu sapi, terutama oleh orang yang tidak dapat mengonsumsi laktosa. Namun, pada sebagian orang, minuman ini justru dapat berkaitan dengan munculnya masalah jerawat.
Karan Lal mengatakan susu oat memiliki kandungan karbohidrat yang relatif tinggi. Ia mengaku menemukan sejumlah pasien yang mengalami masalah jerawat setelah mengonsumsi susu oat.
Respons setiap orang tentu dapat berbeda. Jika jerawat semakin sering muncul setelah mengonsumsi produk tertentu, perhatikan kembali jumlah dan frekuensi konsumsinya.
3. Susu Skim
Susu skim memiliki kandungan lemak lebih rendah dibandingkan susu utuh sehingga kerap menjadi pilihan orang yang sedang mengatur berat badan.
Namun, sejumlah penelitian observasional menemukan adanya hubungan antara konsumsi susu skim dan peningkatan jerawat, terutama pada kelompok remaja.
Ada beberapa kemungkinan yang diduga mendasari hubungan tersebut. Di antaranya perubahan hormon, kandungan protein tertentu dalam susu, serta kemungkinan susu skim memberikan respons insulin yang lebih tinggi dibandingkan susu utuh.
4. Whey Protein
Whey protein banyak digunakan oleh orang yang aktif berolahraga karena kandungan proteinnya tinggi dan dapat membantu memenuhi kebutuhan protein untuk pemulihan otot.
Sayangnya, konsumsi whey protein pada sebagian orang dapat berkaitan dengan munculnya jerawat.
Emily Wood menjelaskan bahwa protein whey yang sangat terkonsentrasi dapat meningkatkan faktor pertumbuhan mirip insulin atau IGF-1. Kondisi ini dapat memengaruhi hormon androgen serta proses pembentukan sel kulit.
Androgen, termasuk hormon seperti testosteron, dapat meningkatkan produksi minyak yang berkontribusi terhadap munculnya jerawat. Sementara itu, peningkatan proliferasi keratinosit dapat mendorong terbentuknya komedo.
5. Protein Berbahan Kedelai
Kedelai merupakan sumber protein nabati yang populer, terutama bagi vegetarian dan vegan. Meski memiliki banyak manfaat nutrisi, konsumsi dalam jumlah berlebihan disebut dapat menjadi pemicu jerawat pada sebagian orang.
Menurut Karan Lal, beberapa pasiennya mengalami masalah jerawat setelah mengonsumsi kedelai secara berlebihan.
Bukan berarti produk kedelai harus sepenuhnya dihindari. Konsumsi dalam jumlah wajar dapat menjadi pilihan, sementara respons tubuh tetap perlu diperhatikan.
6. Suplemen Vitamin B6 dan B12
Vitamin B6 dan B12 memang dibutuhkan tubuh. Namun, penggunaan suplemen dalam jumlah tertentu perlu diperhatikan, terutama bagi orang yang memiliki kulit rentan berjerawat.
Emily Wood menyebut salah satu teori yang menjelaskan hubungan tersebut berkaitan dengan perubahan mikrobioma kulit. Vitamin B6 dan B12 diduga dapat memengaruhi perilaku bakteri yang berkaitan dengan munculnya jerawat.
Propionibacterium acnes atau P. acnes merupakan salah satu mikroorganisme yang berperan dalam perkembangan jerawat.
7. Asupan Yodium Berlebihan
Yodium merupakan mineral penting bagi tubuh, tetapi jumlah yang terlalu tinggi juga perlu diwaspadai.
Emily Wood menjelaskan bahwa kadar yodium yang tinggi dapat ditemukan dalam sejumlah suplemen berbahan rumput laut atau kelp. Bahan tersebut bahkan terkadang digunakan dalam produk smoothie yang dipasarkan dengan klaim mendukung kesehatan kulit.
Mekanisme pastinya belum diketahui secara jelas. Namun, yodium dalam jumlah berlebihan diduga dapat memperburuk peradangan sekaligus meningkatkan produksi minyak pada kulit, yang pada akhirnya berpotensi memperparah jerawat.
Bukan Berarti Semua Makanan Harus Dihindari
Jerawat merupakan masalah kulit yang dapat dipengaruhi banyak faktor. Pola makan hanya salah satu aspek yang perlu diperhatikan, sementara faktor hormon, genetik, stres, kebiasaan perawatan kulit, dan gaya hidup juga dapat berperan.
Tidak semua orang akan mengalami reaksi yang sama terhadap makanan tertentu. Jika menduga makanan tertentu menjadi pemicu, perhatikan pola kemunculan jerawat dan konsultasikan dengan dokter kulit sebelum menghilangkan kelompok makanan tertentu dari pola makan.
Yang terpenting, tetap utamakan pola makan seimbang dan hindari konsumsi berlebihan, terutama makanan atau suplemen yang berpotensi menjadi pemicu masalah kulit.
